22 Desember 2007

Gurindam 12

Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang yang ma'rifatBarang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang teperdaya.Barang siapa mengenal akhirat,tahulah Ia dunia mudarat.
Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,tahulah ia makna takut.Barang siapa meninggalkan sembahyang,seperti rumah tiada bertiang.Barang siapa meninggalkan puasa,tidaklah mendapat dua termasa.Barang siapa meninggalkan zakat,tiadalah hartanya beroleh berkat.Barang siapa meninggalkan haji,tiadalah ia menyempurnakan janji.
Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,sedikitlah cita-cita.Apabila terpelihara kuping,khabar yang jahat tiadaiah damping.Apabila terpelihara lidah,niscaya dapat daripadanya paedah.Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,daripada segala berat dan ringan.Apabila perut terlalu penuh,keluarlah fi'il yang tiada senunuh.Anggota tengah hendaklah ingat,di situlah banyak orang yang hilang semangatHendaklah peliharakan kaki,daripada berjaian yang membawa rugi.
Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hail kerajaan di daiam tubuh,jikalau lalim segala anggotapun rubuh.Apabila dengki sudah bertanah,datanglah daripadanya beberapa anak panah.Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,di situlah banyak orang yang tergelincir.Pekerjaan marah jangan dibela,nanti hilang akal di kepala.Jika sedikitpun berbuat bohong,boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.Tanda orang yang amat celaka,aib dirinya tiada ia sangka.Bakhil jangan diberi singgah,itupun perampok yang amat gagah.Barang siapa yang sudah besar,janganlah kelakuannya membuat kasar.Barang siapa perkataan kotor,mulutnya itu umpama ketur2.Di mana tahu salah diri,jika tidak orang lain yang berperi.
Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,lihat kepada budi dan bahasa,Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,sangat memeliharakan yang sia-sia.Jika hendak mengenal orang mulia,lihatlah kepada kelakuan dia.Jika hendak mengenal orang yang berilmu,bertanya dan belajar tiadalah jemu.Jika hendak mengenal orang yang berakal,di dalam dunia mengambil bekal.Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,yang boleh dijadikan obat.Cahari olehmu akan guru,yang boleh tahukan tiap seteru.Cahari olehmu akan isteri,yang boleh dimenyerahkan diri.Cahari olehmu akan kawan,pilih segala orang yang setiawan.Cahari olehmu akan abdi,yang ada baik sedikit budi,
Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,di situlah jalan masuk dusta.Apabila banyak berlebih-lebihan suka,itulah landa hampirkan duka.Apabila kita kurang siasat,itulah tanda pekerjaan hendak sesat.Apabila anak tidak dilatih,I'ika besar bapanya letih.Apabila banyak mencela orang,itulah tanda dirinya kurang.Apabila orang yang banyak tidur,sia-sia sahajalah umur.Apabila mendengar akan khabar,menerimanya itu hendaklah sabar.Apabila menengar akan aduan,membicarakannya itu hendaklah cemburuan.Apabila perkataan yang lemah-lembut,lekaslah segala orang mengikut.Apabila perkataan yang amat kasar,lekaslah orang sekalian gusar.Apabila pekerjaan yang amat benar,tidak boleh orang berbuat onar.
Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,apalagi kepada lainnya.Kepada dirinya ia aniaya,orang itu jangan engkau percaya.Lidah yang suka membenarkan dirinya,daripada yang lain dapat kesalahannya.Daripada memuji diri hendaklah sabar,biar dan pada orang datangnya khabar.Orang yang suka menampakkan jasa,setengah daripada syarik mengaku kuasa.Kejahatan diri sembunyikan,kebalikan diri diamkan.Keaiban orang jangan dibuka,keaiban diri hendaklah sangka.
Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,tetapi dikerjakan,bukannya manusia yaituiah syaitan.Kejahatan seorang perempuan tua,itulah iblis punya penggawa.Kepada segaia hamba-hamba raja,di situlah syaitan tempatnya manja.Kebanyakan orang yang muda-muda,di situlah syaitan tempat berkuda.Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,di situlah syaitan punya jamuan.Adapun orang tua yang hemat,syaitan tak suka membuat sahabat Jika orang muda kuat berguru,dengan syaitan jadi berseteru.
Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,supaya Allah tidak murka.Dengan ibu hendaklah hormat,supaya badan dapat selamat.Dengan anak janganlah lalai,supaya boleh naik ke tengah balai.Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,supaya kemaluan jangan menerpa.Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,kepada yang sebangsa.Hendaklah jadi kepala,buang perangai yang cela.Hendaklah memegang amanat,buanglah khianat.Hendak marah,dahulukan hajat.Hendak dimulai,jangan melalui.Hendak ramai,murahkan perangai.
Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas:


Gurindam 12, pasal yang ke 11 dan ke 12

Raja muafakat dengan menteri,seperti kebun berpagarkan duri.Betul hati kepada raja,tanda jadi sebarang kerja.Hukum adil atas rakyat,tanda raja beroleh anayat.Kasihan orang yang berilmu,tanda rahmat atas dirimu.Hormat akan orang yang pandai,tanda mengenal kasa dan cindai.Ingatkan dirinya mati,itulah asal berbuat bakti.Akhirat itu terlalu nyata,kepada hati yang tidak buta.

04 Desember 2007

Suci dalam Debu

Iklim
Suci Dalam Debu
Engkau bagai air yang jernih
Di dalam bekas yang berdebu
Zahirnya kotoran itu terlihat
Kesucian terlindung jua
Cinta bukan hanya di mata
Cinta hadir di dalam jiwa
Biarlah salah di mata mereka
Biar perbezaan terlihat antara kita
Kuharapkan kau kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa
Suatu hari nanti
Pastikan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama
Di situ kita lihat
Bersinarlah hakikat
Debu jadi permata
Hina jadi mulia
Bukan khayalan yang aku berikan
Tapi keyakinan yang nyata
Kerana cinta lautan berapi
Pasti akan kurenang jua

Indonesia Reinkarnasi

Indonesia Reinkarnasi
Ridlo AD

Semangat persatuan dan kesatuan berbangsa-bernegara sewajarnya terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Wawasan alam pikir seharusnya tidak lagi tersekat-sekat oleh adanya perbedaan latar belakang. Ini adalah sesuatu yang teramat serius untuk disepelekan, sebab, seperti ditulis Goenawan Mohamad, bangsa Indonesia tidak ditakdirkan seperti bangsa Yahudi atau Jepang yang homogen. Keanekaragaman Indonesia adalah realitas obyektif.
Hari ini idealitas seperti itu seringkali terderai oleh dangkalnya wawasan kebangsaan sebagian masyarakat. Terjadinya konflik horizontal antar komunitas masyarakat sering terjadi hanya karena persoalan sederhana. Perbedaan etnik, ras, bahasa, agama dan unsur-unsur primordialisme lainnya seringkali menjadi pemicu kekerasan antar masyarakat.
Ada tiga simpul yang mempengaruhi konflik antar masyarakat Indonesia. Simpul Pertama, Ekonomi. Beban kebutuhan hidup yang terus menghimpit membuat masyarakat Indonesia tidak lagi bisa berpikir secara rasional. Untuk bertahan hidup, masyarakat menggunakan berbagai macam cara dalam mencari nafkah, meskipun harus tega untuk membunuh tetangganya sendiri. Simpul Kedua, Kekuasaan atau politik. Sifat dasar manusia untuk saling mempengaruhi semakin kuat dari pusat hingga daerah. Baik untuk keuntungan posisi jabatan atau hanya untuk strategi pendapatan kelompoknya semata. Walaupun, kadangkala dalam menyingkirkan lawannya harus memakai cara-cara kekerasan. Kemudian, simpul Ketiga adalah Hukum. Hukum sebagai sistem aturan yang seharusnya menjadi salah satu pilar harmonisasi kehidupan, tidak mampu lagi menjaga kepungan dari para pelanggar hukum. Karena, aparat penegak hukum telah ‘main mata’ dengan pelanggar hukum. Dan, bim-salabim, putusan hukum yang menjeratnya-pun dapat berubah dalam waktu sekejap.
Kondisi ini jika dibiarkan terus-menerus, semakin lama akan semakin menjauhkan masyarakat Indonesia dari nilai-nilai kemanusiaan yang diharapkan. Ibarat hutan rimba, nilai-nilai kanibalisme mulai merasuk kedalam kehidupan masyarakat Indonesia. Membunuh demi sesuap nasi, mengambil yang bukan haknya, merasa kelompoknya paling benar, dan yang lebih kaya atau punya jabatan adalah yang berkuasa penuh. Untuk keluar dari kondisi hutan rimba ini, tentunya ada upaya-upaya dalam mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah terkontaminasi dengan nilai kanibalisme. Yakni, menilik kembali kedalam makna hakikat manusia-nya.
Meminjam makna reinkarnasi Rais Ridjaly (2004:11) adalah; re berarti kembali, inkar berarti menjadi, dan nasi berarti manusia. Jadi re-inkar-nasi itu, ialah kembali menjadi manusia. Ini menandakan bahwa ketinggian dan kemuliaan yang terlahir sebagai manusia harus dihormati, karena manusia yang bijaksana tidak menjual berlian untuk membeli pecah beling. Apalagi sampai terjadi, dari wujud manusia akan mengalami penurunan ke dalam ciptaan yang lebih rendah (hina). Bukankah membunuh antar sesama, menistakan golongan satu dengan yang lain, mengambil yang bukan haknya (korupsi) dan memanipulasi putusan hukum adalah bukan sifat dasar manusia?.
Manusia disini adalah manusia yang bisa menjadikan dirinya adalah berlian, dan melihat saudaranya adalah berlian yang lain. Dan wujud manusia seutuhnya adalah manusia yang akan berpikir sepuluh kali untuk membunuh sesamanya, berpikir seratus kali untuk menistakan golongan yang lain dan berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan korupsi.
Bisa jadi, memang benar adanya yang ditulis oleh Goenawan Muhamad. Bahwa masyarakat Indonesia memang ditakdirkan dengan bentuk yang heterogen. Heterogenitas disini tidak perlu disesali apalagi dibanggakan. Namun, bagaimana menjadikannya sebagai irama musik yang merdu dan indah dalam bingkai ke-Indonesia-an.
Tentu saja dalam memainkan nada-nada tersebut tidak dengan cara ngawur atau asal bunyi. Mendahulukan nada suku, tapi mencurangi nada agama. Ataupun menyembunyikan nada ras, tapi menaikkan nada golongan. Semuanya harus sinergi, supaya ritme yang pas dan tepat terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam konteks Indonesia yang bhinneka tunggal ika, sewajarnya ada spirit penghormatan terhadap perbedaan, sehingga masyarakat dapat hidup dalam satu negara bangsa. Ini tentu saja akan menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa (nation state) yang kuat. Dan masyarakatnya adalah wujud manusia seutuhnya bukan sebaliknya. Wallahu’alam